Rabu, 02 Juli 2025

Cerita Tentang Aku, Ayah, Ibu dan Kenangan Masa Kecilku

 


Untuk Ayah dan Ibu yang selalu ku rindukan…


Ayah… Ibu…  

Rasanya baru kemarin aku mendengar suara kalian. Tapi waktu terus melaju, dan aku tumbuh dengan rindu yang tak pernah selesai. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan, banyak yang belum sempat aku ucapkan. Dunia terus berjalan, tapi hati ini kadang tertinggal di masa-masa ketika kalian masih di sini—membuat semuanya terasa aman.


Aku sekarang mencoba kuat… mencoba jadi dewasa yang tegar. Tapi sejujurnya, banyak hari aku lelah. Banyak malam aku menangis diam-diam, berharap ada pelukan kalian yang bisa meredakan semuanya.


Aku sedang menjaga anak-anak kakakku—dan aku tahu kalian pasti berharap kami saling menjaga sebagai keluarga. Tapi sering kali aku merasa sendirian. Barang-barangku diambil tanpa izin, perasaanku terabaikan, dan luka masa kecilku masih belum sembuh sepenuhnya. Aku mencoba untuk tetap sabar, tetap lembut… karena aku ingin kalian bangga. Aku ingin jadi pribadi yang nggak berhenti mencintai, meski hati ini sering terluka.


Ayah…  

Ingat waktu dulu Ayah suruh kakakku boncengin aku ke sekolah? Tapi malah kakiku dijepitkan ke roda sepeda... Aku diam. Aku takut. Tapi aku berharap… ayah tau, betapa aku butuh perlindungan saat itu.


Ibu…  

Kalau saja aku bisa cerita waktu mainanku direbut, atau saat aku hanya bisa menatap barangku hilang… Aku pengin dipeluk, dikuatkan, dibilangin bahwa aku nggak salah hanya karena aku lembut.


Sekarang aku cuma ingin kalian tahu... aku tetap berusaha jadi baik. Walau aku kecewa, walau aku marah… aku tetap mencoba menjadi anak yang bisa kalian banggakan.


Tolong doakan aku dari sana ya...  

Agar hatiku tetap bening, agar aku kuat tanpa harus keras. Dan agar suatu hari nanti, saat kita bertemu kembali… aku bisa memeluk kalian sambil berkata: "Aku udah bertahan, Yah... Bu... dengan sekuat yang aku bisa."


Dengan cinta dan rindu yang tak pernah usai,  

_ Mita _



Tidak ada komentar:

Posting Komentar